• Tentang
  • Privacy Policy
  • Contact
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Struktur Kepengurusan
  • Berita
  • Fatwa
  • Artikel
    • Fikih
    • Hikmah
  • Khutbah
No Result
View All Result
MUI Kota Malang
No Result
View All Result

Tawakkal Kita, Bisa Jadi Kalah dengan Hewan

Admin by Admin
3 Juni 2021
in Artikel, Hikmah
0
0
SHARES
206
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kita yakini, bahwa tidak mahkluk apapun di dunia ini yang tidak dalam tanggungjawab Allah SWT. Apalagi kita, sebagai manusia yang di dalam Al-Quran ditahbiskan sebagai mahkluk yang paling sempurna (لقد خلقنا الإنسان في أحسن التقويم). Tentunya saja kita mendapatkan prioritas lebih, dari segala fasilitas yang Allah ciptakan.

Related Posts

PERAN UMAT ISLAM DALAM MENCIPTAKAN PERDAMAIAN DUNIA

Idul Fitri dan Gandum Basi

Mengenali Asal-Muasal dan Nama Bulan Ramadhan

5 Peristiwa Besar di Bulan Ramadhan Yang Terjadi di Masa Rasulullah

Hewan, tumbuhan, alam raya, bahkan malaikat, diciptakan Allah SWT untuk melayani dan memenuhi kebutuhan manusia. Betapa istimewanya manusia, sampai-sampai dalam salah satu hadis, disebutkan bahwa manusia itu adalah keluarganya Allah SWT (الناس عيال الله). Sehingga sebagai “keluarga Nya” tentu pemenuhan segala hajat mulai dari lahir sampai mati, pasti di tanggung oleh-Nya.

Namun, ada fenomena yang cukup paradoks. Dimana di satu sisi, kita meyakini tentang hidup, mati, rezeki, jodoh, dan segala yang terkait dengan kita adalah dalam genggaman-Nya, di sisi lain kita sering tidak benar-benar percaya terhadap kepastian Nya.

Terkadang muncul dalam benak kita, apa Allah itu peduli dan memperhatikan kita. Apa Allah tahu kebutuhan dan keinginan kita. Apa Allah menjamin hidup dan kehidupan kita. Sehingga dari keragu-raguan tersebut, menimbulkan perasaan buruk sangka pada Allah.

Berlomba-lomba nya manusia memperkaya diri, keluarga, dan golongannya, adalah salah satu bukti kurang kuatnya keyakinan sebagian manusia terhadap ketentuan Allah. Tidak ada larangan untuk kaya, tapi harus dengan cara yang benar. Bahkan perintah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (فاستبقوا الخيرات) adalah bukti sahih kita tidak boleh “kalah” dalam berbagai kebaikan dengan orang lain.

Sayangnya, konsep-konsep dasar tengah akidah dan akhlak yang merupakan hal mendasar seperti tawakkal kepada Allah, sering kita lupakan dalam keseharian kita sebagian manusia.

Manusia itu tidur dan ketika mati, baru mereka bangun (الناس نيام وإذا ماتوا انتبهو). Mungkin hanya tanah ukuran 1×2 yang akan benar-benar menjadi batas akhir segala keinginan manusia.

Pandemi COVID-19 ini memberikan pelajaran mahal dan sangat penting. Betapa lemah dan tidak berdayanya manusia. Hanya dengan makhluk kasat mata berupa virus, yang diciptakan Allah untuk menguji manusia, beberapa ada yang kurang sabar dan ikhlas. Sehingga tidak menerima dengan keadaan, menyalahkan yang lain, dan -wal ‘iyadzu billah- sampai berani mempertanyakan kemahakuasaan Allah SWT.

Kita bandingkan dengan hewan seperti ayam ataupun burung. Betapa makhluk Allah kategori unggas tersebut, tidak pernah merasakan yang namanya miskin maupun lapar. Tidak butuh terhadap bahan persediaan makanan. Tidak bingung cari tempat untuk berteduh dan hidup. Dan belum pernah ada kisah, seekor ayam mati kelaparan. Ataupun burung yang mati karena tidak punya tempat tinggal.

Selama manusia itu belum habis rezekinya, maka selama itu pula Allah menjamin segala kebutuhan hidupnya.

Tawakal bukan berarti abai terhadap usaha. Justru tawakkal adalah salah satu usaha diantara usaha-usaha manusia untuk mendapatkan kebaikan menurut Allah.

Pelajaran do’a keluar rumah yang dibaca oleh anak-anak kita (بسم الله توكلت على الله لا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم) adalah justru ketika tapak kaki kita melangkah ke luar rumah.

Maka berbahagialah mereka yang bisa menemukan rahasia tawakkal. Menjadi manusia merdeka. Manusia yang tidak pernah bingung besok makan apa dan mau melakukan apa. Karena hakikat mu’min sejati, adalah mereka yang hidupnya hanya untuk menunggu panggilan-panggilan Allah saja. Dan setiap hari kita selalu diingatkan untuk memenuhi salah satu panggilan Allah dengan kewajiban shalat lima waktu.

Hidup seorang mu’min adalah niat untuk menunggu waktu shalat. Dari satu shalat ke shalat yang lain. Dan itulah intinya-inti dari tawakkal yang membedakan kita dengan hewan dan makhluk lainnya.

Wallohuaa’lam bi shawab.

Oleh : Achmad Diny Hidayatullah

Tags: tawakkal
Next Post

MUI Lowokwaru Sukses Selenggarakan Muscam: Zulkarnain terpilih sebagai Ketua Umum

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


[mc4wp_form id="274"]


MUI Kota Malang

Lembaga yang mewadahi para ulama, zu'ama, dan cendikiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia.

Sites

  • Tentang
  • Privacy Policy
  • Contact

© 2021 MUI Kota Malang, | Komisi Informasi dan Komunikasi

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Struktur Kepengurusan
  • Berita
  • Fatwa
  • Artikel
    • Fikih
    • Hikmah
  • Khutbah

© 2021 MUI Kota Malang