• Tentang
  • Privacy Policy
  • Contact
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Struktur Kepengurusan
  • Berita
  • Fatwa
  • Artikel
    • Fikih
    • Hikmah
  • Khutbah
No Result
View All Result
MUI Kota Malang
No Result
View All Result

PERAN UMAT ISLAM DALAM MENCIPTAKAN PERDAMAIAN DUNIA

Admin by Admin
15 November 2023
in Hikmah
0
0
SHARES
415
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

M. Zainuddin*

Related Posts

Tawakkal Kita, Bisa Jadi Kalah dengan Hewan

Idul Fitri dan Gandum Basi

5 Peristiwa Besar di Bulan Ramadhan Yang Terjadi di Masa Rasulullah

Hakikat Berbahagia Menyambut Ramadhan

DUNIA selalu dihebohkan dengan perang dan konflik, tak pelak perang dan konflik di dunia Muslim terutama perang Israel-Palestina yang bertahun-tahun lamanya tak kunjung usai. Saat ini perang Israel-Palestina sudah berlangsung lebih dari sebulan, bahkan tensinya semakin terus meningkat dan mengakibatkan puluhan ribu nyawa melayang dari kedua belah pihak, terutama di pihak Palestina. Lebih tragis lagi korbannya justru masyarakat sipil, anak-anak dan wanita tak berdosa. Pertanyaanya, bagaimana peran umat Islam dalam menciptakan kedamaian di muka bumi ini?

Sementara itu Islam adalah agama perdamaian dan cinta damai, dari akar katanya salima yaslamu silman wa salaman dan aslama yuslimu islaman yang berarti damai dan mendamaikan, selamat dan menyelamatkan. Islam juga agama yang sesuai dengan fitrah dan sunnatullah. Disebut Islam, karena agama ini mengajarkan tata cara hidup yang sesuai dengan fitrah dan ritme sunnatullah untuk memperoleh kehidupan yang damai dunia maupun akhirat. Ber-islam artinya menjadi orang yang selalu mencintai ketenteraman dan kedamaian, hidupnya selalu dipenuhi oleh rasa tenteram, aman dan damai. Masyarakat islami dengan demikian adalah masyarakat yang mencintai kedamaian, ketenteraman dan kesejahteraan baik secara individu maupun kolektif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Secara empirik kemudian dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam risalahnya di Makkah maupun di Madinah. Bagaimana beliau membangun relasi baik secara vertikal maupun horizontal, dan bagaimana beliau menunjukkan perannya sebagai tauhid al-Ilah, pemersatu umat dari berbagai agama; tauhid al-ummah, pemersatu umat dari berbagai suku, kabilah dan ras; dan tauhid al-hukumah, pemersatu umat dalam satu kesatuan pemerintahan. Namun figur Nabi tersebut tidak serta merta diteladani oleh sebagian besar umatnya, sehingga banyak terjadi ketimpangan di sana-sini.

Konflik antarumat manusia dan antarsaudara yang terjadi sepeninggal Nabi telah banyak bermunculan, misalnya pada era daulah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah yang menimbulkan pertumpahan darah. Memang pertumpahan darah tersebut tidaklah muncul yang pertama, namun sudah terjadi sejak manusia pertama diciptakan, yaitu pada dua anak Adam: Qabil dan Habil yang merupakan awal pertumpahan darah dalam sejarah kehidupan umat manusia di muka bumi ini.

Lantas apa faktor konflik dan pertumpahan darah tersebut? Bagamana dengan yang terjadi saat ini? Kenapa umat manusia begitu sadis dan keras, bahkan kepada sesama saudaranya sekalipun? Jika ditilik dalam sejarahnya, memang sejak awal manusia sudah mewarisi tradisi murka yang diperankan oleh Qabil, anak Adam, yang membunuh saudaranya sendiri, Habil. Jika Adam adalah manusia pertama, maka Qabil adalah simbol sejarah kekerasan manusia.

 Qabil vs Habil           

Alkisah Qabil dan Habil telah dipertunangkan oleh Adam dengan saudara perempuannya. Tetapi kemudian Qabil tidak puas dengan tunangan yang dipilihkan, malah ia memilih tunangan milik Habil. Tak pelak Habil pun menolak, maka terjadilah pertentangan di antara keduanya. Pertentangan mereka mengalami jalan buntu sampai akhirnya Adam sebagai orang tua memutuskan untuk mencari jalan keluar dan kesepakatan damai. Qabil dan Habil diperintahkan untuk mempersembahkan pengorbanan, dan barang siapa yang pengorbanannya diterima Tuhan, maka akan mendapatkan saudara perempuan yang diperebutkan, dan sebaliknya persembahan yang ditolak harus menerima keputusan untuk tidak memiliki tunangan yang diperebutkan itu. Kedua belah pihak menyepakati jalan keluar tersebut.

Habil mempersembahkan seekor unta muda yang sehat dan gemuk, hewan ternak terbaik di antara ternaknya, sementara Qabil mempesembahkan seonggok gandum yang telah layu dan tanpa isi. Sudah barang tentu persembahan yang diterima oleh Tuhan adalah persembahan Habil, karena kualitasnya, sementara  persembahan Qabil ditolak. Akhirnya Qabil semakin penasaran dan tidak puas dengan keputusan Tuhan itu, hingga kemudian Qabil tega menghabisi adiknya sendiri, Habil. Inilah pertumpahan darah pertama dalam sejarah umat manusia.

Kisah tentang Qabil dan Habil tersebut menunjukkan, bagaimana persatuan kemanusiaan yang berasal dari orang tua yang sama berubah menjadi konflik dan pertentangan abadi. Cinta sesama saudara berubah menajdi permusuhan, persatuan menjadi perpecahan dan kekerasan. Demikianlah lembaran pertama sejarah dinodai dengan pembunuhan yang melahirkan perang, kejahatan dan fragmentasi sosial antara anak turun Adam yang susul-menyusul.

Kenapa semua itu terjadi? Benarkah keraguan Malaikat terhadap kesalehan manusia? Ketika Tuhan menyampaikan kepada Malaikat, bahwa Dia akan menciptakan manusia di muka bumi ini, maka serta merta Malaikat “protes”. “Akankah Tuhan menciptakan manusia di bumi yang akan bikin onar dan penumpahan darah?” Demikian Malaikat berujar.

 Muara Egosentrisme

Jika kita perhatikan dari sekilas kisah di atas, maka semua itu disebabkan oleh persoalan ego atau “aku” yang tidak mampu dikendalikan. Jika saja si Qabil waktu itu mampu menguasai “aku”-nya, maka tak akan terjadi pembunuhan kepada saudaranya sendiri dan lembaran sejarah umat manusia tidak kelabu seperti sekarang ini yang diwarisi secara turun-temurun.

Umat Islam sendiri belum bisa sepenuhnya memenej dirinya sendiri. Jika manusia belum dapat mengendalikan dirinya sendiri maka ia tidak dapat mengendalikan keluarganya dan tentu bangsa dan negara. Maka, untuk menciptakan perdamaian dunia tidak dapat lepas dari skop yang terkecil yaitu dzurriyah thayyibah dan qaryah thayyibah.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, maka negara yang diidealkan adalah negara yang gemah ripah loh jinawe (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). Untuk mencapai baldah thayyibah tersebut, maka harus dimulai dari keluarga yang baik (zurriyah thayyibah) dan qaryah thayyibah (kampung yang baik) (QS. As-Syu’ara: 214). Indikator kampung yang baik antara lain: aman, tenteram guyub-rukun, taat asas, lingkungan yang bersih, asri dan makmur warganya). Indikator dari zurriyyah thayyibah adalah: keluarga yang sakinah (aman, tenteram dan sejahtera), mawaddah wa rahmah, penuh kasih sayang dan harmonis (QS. At-Tahrim:6 dan QS. Ar-Rum:21). Inilah yang disebut dengan tri pusat pendidikan kewarganegaraan (zurriyah thayyibah, qaryah thayyibah dan baldah thayyibah).

Oleh sebab itu menurut hemat penulis, agama akan mampu menjadi kekuatan besar dan riil di dunia sekarang ini, jika ajaran-ajarannya dapat diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan mengedepankan nilai-nilai etik dan sosialnya. Selain itu perlu pemahaman agama secara benar dan mendalam, melalui pendidikan formal maupun informal, dan menghindari distorsi historis akibat pengalaman pahit di masa-masa silam. Para da’i, misionaris perlu menyampaikan dakwah/misinya secara benar dan tepat serta berwawasan perdamaian dan kemanusiaan universal.

Dalam konteks global, umat Islam di seluruh dunia perlu bersatu menegakkan kalimah tauhid, kalimah sawa yang mengantarkan umat manusia dalam perdamaian dunia. Bukan malah sebaliknya bercerai berai yang mengakibatkan runtuhnya dunia. Selain itu juga masing-masing umat Islam di dunia Islam perlu menegakkan pemerintahan yang demokratis, jujur dan adil serta menjunjung tinggi nilai-nilai agama, tidak menjadikan agama sebagai legitimasi kepentingan, politik dan kekuasaan, melainkan harus sebaliknya, memberikan nilai-nilai agama dalam kehidupan berpolitik dan bernegara.

 

* Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang

Next Post

MUI Kota Malang Dorong Peningkatan Pendidikan al-Qur'an Melalui Sarasehan Manajemen

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


[mc4wp_form id="274"]


MUI Kota Malang

Lembaga yang mewadahi para ulama, zu'ama, dan cendikiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia.

Sites

  • Tentang
  • Privacy Policy
  • Contact

© 2021 MUI Kota Malang, | Komisi Informasi dan Komunikasi

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Sejarah
    • Struktur Kepengurusan
  • Berita
  • Fatwa
  • Artikel
    • Fikih
    • Hikmah
  • Khutbah

© 2021 MUI Kota Malang