Pandemic Covid 19 yang sudah berjalan hampir dua tahun telah menjadi masalah global. Semua negara di berbagai belahan dunia terkena dampaknya. Covid 19 ini menjadi peringatan diri untuk membangunkan kesadaran beragama umat manusia pada umumnya, dan umat Islam khususnya. Demikian ini terungkap dalam Sarasehan yang dihelat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Malang di Hotel Savana pada 12/9/2021.
Sejatinya, Covid 19 harus dilihat dalam tiga pola relasi, yaitu relasi etika atau teologis, relasi social, dan relasi kosmis. Prof. Dr. M. Zainuddin, salah satu Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, yang diundang dalam kegiatan tersebut, menyatakan bahwa dalam perspektif relasi etika Covid 19 mengisyaratkan problem hubungan kita dengan Allah. Hal itu menjadi peringatan bagi hamba-Nya. Dengannya, seseorang dapat menata diri dan semakin mendekatkan pada Sang Khaliq.
Dalam perspektif relasi sosial, pandemic Covid 19 menjadi pemantik kesadaran seseorang untuk membangkitkan ikatan sosial antar sesama, sehingga manusia semakin memperkuat hubungan sosial antar sesama. Masalah pandemi Covid 19 ini bukan masalah agama, tetapi masalah sosial kemanusiaan.
Masih menurut Prof. Dr. M. Zainuddin, MA., dalam pola relasi kosmis, Covid 19 mengingatkan manusia pada hubungan dirinya dengan alam sekitar. “Bisa jadi, munculnya Covid 19 akibat eksploitasi manusia terhadap alam sekitar secara berlebihan dan tidak wajar,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Dr. Agus Sholahuddin, MS., selaku narasumber kedua lebih menyoroti dampak yang ditimbulkan oleh pandemi Covid 19, khususnya bagi masyarakat di kota Malang. Menurutnya, salah satu dampak nyata dari pandemi adalah masalah ekonomi. “Sebagian masyarakat mengalami kesulitan ekonomi dan pengangguran meningkat akibat PHK dari tempat-tempat kerja.
Namun pada saat yang sama, kondisi seperti itu masih tetap berimbang dengan meningkatnya solidaritas sosial masyarakat seperti munculnya gerakan donasi untuk mereka yang terkena Covid 19 dan Gerakan sosial lainnya,” papar Guru Besar Universita Merdeka Malang.
Meskipun sudut pandang yang dipakai dalam melihat covid 19 berbeda, namun kedua narasumber menekankan untuk segera mencari solusi agar dapat keluar dari jeratan pandemi Covid 19. Kuncinya adalah kerja sama antara antara elemen masyarakat. Covid ini tidak saja menjadi tanggungjawab agamawan, tetapi juga butuh pada tanggungjawab dari yang lain. Sinergisitas antara otoritas kesehatan (sebagai elemen yang otoritatif dalam masalah penyakit), orotitas kebijakan (dalam hal ini pemerintah sebagai pembuat kebijakan), dan otoritas keagamaan menjadi kunci penyelesaian yang tidak dapat diabaikan. (MFF/MUI)